Rabu, 12 Juni 2013

IMPLEMENTASI TAUHID (Kajian Ketiga)



( IMPLEMENTASI  TAUHID )


Keyakinan bertauhid harus di wujudkan pada:

A.Tauhid dalam beragama (Islam):

  Definisi Islam:
الإسلام معناه: الاستسلام والخضوع والانقياد لأوامر الله
“Islam artinya: “Berserah, tunduk dan mengikuti perintah-perintah Allah”.


1.         Meyakini islam sebagai:
1.1         Agama yang di terima dan di ridhoi Allah, sedangkan selain islam tertolak. Al-Maidah:3 / Ali-Imran:19 / 85.
§       وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
                        “dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. AL-Maidah:3

§       إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَام
                         “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam”. Ali Imran: 19.

§       وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ  
 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. Ali Imran: 85
                       
                        Dengan meyakini sepenuh hati bahwa Allah hanya meridhoi dan menerima agama islam, maka seseorang akan terhindar dari keyakinan terhadap agama selain islam.

1.2    Agama yang haq (benar). At-Taubah:33.
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
 Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.   
   
 (Liyudzhirohu): untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. At-Taubah:33.

·         Islam tidak mengajarkan ajaran-ajaran yang menyesatkan.  Jika ada orang tersesat setelah mempelajari islam, maka itu bukan ajaran islamnya yang sesat, melainkan ia sudah keluar dari jalur islam.
·         Orang mengerjakan shalat tetapi Allah melihatnya salah, maka kesalahan itu bukan shalat yang diajarkan islam yang salah, melainkan ia mempelajarinya tidak sesuai dengan shalat yang diajarkan oleh islam.  Maka carilah, niscaya akan sampai pada titik kebenarannya.

1.3     Agama petunjuk (Al-Huda) Ali Imran:20.

فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
           " jika mereka masuk islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk

                      Dan orang yang memluk islam berarti telah di bukakan hatinya.  Az-Zumar:22.

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 “Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

Al-Huda=Ar-Rusyd, artinya:  Petunjuk.  Sempurnanya petunjuk melalui tiga fase, yaitu:
3.1.  Hidayah, artinya: Tumbuhnya kesadaran dalam hati untuk berbuat suatu  kebaikan
3.2. Taufiq, artinya: Bertemunya kesadaran, atau sampai kesadaran itu pada pelaksanakan.    
3.3.  ‘Inayah, artinya: Pertolongan, atau hasil setelah melaksanakannya.

      Contoh:
·         Orang ingin sekali belajar agama, (inilah hidayah). Lalu keinginan itu dikerjakan, (inilah taufiq).  Kemudian setelah belajar ia mendapatkan ilmu / hilangnya kebodohan, (inilah inayah).
·         Orang merasakan haus / ingin minum, (ini hidayah), lalu ia minum, (ini taufiq), setelah minum hilang rasa hausnya / terasa segar, (ini inayah).

Inilah sempurnanya hidayah,  yang selalu diminta pada setiap rakaat dalam shalat.  Al-Fatihah ayat 5.

1.4    Agama yang lurus / tegak (Dinul Qayyim). At-Taubah:36.

ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
“Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dir”. i[641]
[641]. Maksudnya janganlah kamu menganiaya dirimu dengan mengerjakan perbuatan yang dilarang, seperti melanggar kehormatan bulan itu dengan mengadakan peperangan.


1.5    Agama yang murni / bersih (Dinul Khalish).  Az-Zumar:3.

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya".

·      Yaitu bersih dari sifat kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan, bahkan ketiganya adalah musuh islam yang pertama harus diberantas.  Ketiganya laksana rumput ilalang yang akan membuat tanah jadi gersang dan mematikan seluruh tanaman.   Tiga belas tahun Nabi saw menda’wahkan islam di Mekah menghadapi kaum jahiliyah hanya untuk menghapus sifat itu atau menanamkan tauhid kepada Allah, bukan mengajarkan tentang shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. 
·      Jika seorang muslim melakukan hal-hal bersifat syirik, kufur atau nifaq, maka yang pasti itu semua bukan ajaran islam.

(pembahasan tentang syirik, kufur dan nifaq pada bab berikutnya: Tauhid dalam mengenali penyakit iman)


1.6    Agama yang sempurna. Al-Maidah: 3.

لْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai islam itu sebagai agama bagimu.


1.7    Sebagai ajaran universal,  As-Syura: 13.

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.

a)        Ajaran Nabi Nuh,  Yunus: 72.
b)        Ajaran nabi Ibrahim, Al-Baqarah:131-132.
c)        Ajaran Nabi Ya’qub, .Al-Baqarah: 132.
d)       Ajaran putra-putra Nabi Ya’qub,  Al-Baqarah:133.
e)        Ajaran Nabi Musa,  Yunus: 84.
f)         Ajaran pengikut Nabi Isa,  Ali Imran: 53.


1.8    Agama yang  mengajarkan nilai kebebasan / tanpa paksaan. Al Baqarah: 256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam) telah jelas antara jalan (agama) yang benar dengan yang sesat”.

Keterangan:
Islam menekankan kepada manusia untuk menggunakan akal pikiran dan nuraninya dalam mencari kebenaran.
اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاِنْ اَفْتَوْكَ, وان افتوك, وان افتوك.
“Mintalah fatwa kepada hatimu sekalipun engkau telah diberi fatwa oleh mereka      (ahli fatwa), sekalipun engkau telah diberi fatwa oleh mereka, sekalipun engkau telah diberi fatwa oleh mereka”. HR. Ahmad.
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى
 “Hati tidak akan berdusta terhadap apa yang  di lihatnya”.  An-Najm:11.


1.8.1.   Memilih Tuhan (sesembahannya). Az-Zumar:15.
فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ            
 “Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia[1].  Katakanlah: "Sesungguhnya orang yang rugi ialah yang merugikan diri dan keluarganya pada hari Kiamat (menyembah selain Allah). ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”.

[1] Perintah ini bukanlah menurut arti yang sebenarnya, tetapi sebagai pernyataan kemurkaan Allah terhadap kaum musyrikin yang telah berkali-kali diajak kepada tauhid tetapi mereka selalu ingkar (istidraj).

1.8.2.   Memilih keyakinan (keimanannya).  Al-Kahfi:29.
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
       Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. ".   

                       1.8.3.  Memilih amal perbuatan. Fushshilat; 40.

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
         “Berbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.

1.9.   Islam mengajarkan kemudahan dan keringanan / tidak meberatkan. Al-Baqarah:286.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
 “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”.

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
    "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu". Al-Baqarah:185

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
   "Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan". Al-Hajj:78.
    Nabi saw bersabda:
قال النبي صلى الله عليه وسلم: يسروا ولا تعسروا. احمد, بخارى, مسلم, نسائ, عن انس.
     “Permudahlah dan janganlah kamu mepersulit”. HR. Ahmad, Bukhari, Muslim dan Nasai dari Anas.

-قال النبي صلى الله عليه وسلم: "رفع القلم عن ثلاثة: عن النائم حتى يستيقظ، وعن الصبي حتى يحتلم، وعن المجنون حتى يعقل" رواه أحمد وأصحاب السنن.
“Nabi saw bersabda: “Diangkatnya qalam pencatat amal dari tiga golongan:1. Orang tidur sampai terbangun, 2. Anak kecil sampai ia bisa membedakan anatar yang benar dan yang salah, 3. Orang gila sampai sembuh (berakal sehat)”. HR. Ahmad dan Ashhabus-sunan.

     Contoh:
1.9.1.      Sholat:
-        Kemudahan sholat sambil berdiri, duduk dan berbaring.
وأما دليل القيام: فحديث عمران بن حصين قال: "كانت بي بواسير، فسألت النبي عن الصلاة، فقال: صل قائمًا، فإن لم تستطع فقاعدًا، فإن لم تستطع فعلى جنب. البخاري
“Dari ‘Imran bin Hushain, ia bertanya kepada Nabi saw:”Aku terkena penyakit bawasirt, maka aku bertanya kepada Nabi tentang sholat, beliau  bersabda: “Sholatlah dengan berdiri, jika tidak kuasa maka dengan duduk…” HR. Bukhari.

-       Kemudahan bagi musafir untuk menjama’ dan mengqasharnya. An-Nisa’:101.

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ
        “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar sembahyang(mu)”.


1.9.2.      Zakat:
a.         Fitrah: Wajib, jika masih ada yang di makan buat tanggal 1 Syawal.
b.        Mal:  Wajib, jika telah sampai Haul dan Nishab. (Al-hadis)

1.9.3.      Puasa: Orang sakit / musafir boleh tidak berpuasa di bulan ramadhan, melainkan di kerjakan di bulan lainnya. Al-Baqarah:185.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya puasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu di hari-hari yang lain.

1.9.4.      Haji: Wajib, jika mampu. Ali Imran: 97.

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”.[2].

                                     [2] Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat   jasmani dan perjalananpun aman.

1.9.5.      Makanan: Yang semula haram bisa jadi halal, jika terdesak (darurat).  Al-Maidah:3.

  “Di haramkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[3], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[4], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini…….. Maka barang siapa terpaksa[5] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  [3] Ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.

        [4] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan Apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya Ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing Yaitu dengan: lakukanlah, jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka'bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka'bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti Apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.

          [5] Maksudnya: dibolehkan memakan makanan yang diharamkan oleh ayat ini jika terpaksa.

1.9.6.      Di maafkannya amalan karena lupa dan paksaan.
Dari Ibni Abbas, Nabi saw bersabda:
إِن الله تجَاوز لي عَن أمتِي الْخَطَأ وَالنِّسْيَان وَمَا اسْتكْرهُوا عَلَيْهِ.

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan untukku dari umatku, yaitu: Luput, lupa dan sesuatu yang di paksa atasnya”.
Bersambung.....





Posting Komentar