Jumat, 16 Mei 2014

Tauhid Dalam Bertuhan (Kajian Kelima)


          Kajian kelima     


        Tauhid Dalam Bertuhan


1)        Yakin bahwa Allah adalah Ilah dan Roobnya. Al-fatihah:4.

Uluhiyyah-Nya:  Allah adalah ”ILAH” (Tuhan yang harus di sembah, tempat memohon, berlindung dan berserah diri (tawakal). QS. Al- Fatihah:4.

Rububiyyah-Nya: Allah adalah “ROBB” (Tuhan yang menciptakan / mengadakan, Yang meniadakan / mematikan, Yang memberi / mengambil dan Yang mengatur segala urusan makhluk-Nya. As-Sajadah: 5  /   An-Nas: 2.

2)        Yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah. Thaha: 14.

3)        Allah adalah Tuhan yang di sembah makhluq di langit dan bumi.
 
Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. Az-Zukhruf:84.

4)        Mengenali (ma’rifat) Allah:

Ma’rifat berasal dari kata arafa, yang artinya pengetahuan, Pengenalan dan pengalaman. Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang bisa didapati oleh orang-orang pada umumnya.  Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, tetapi lebih mendalam bathinnyadengan mengetahui rahasianya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan dan hakikat itu satu dan segala yang maujud berasal dari yang satu.

A.      Dzat (Wujud-Nya):
1)           Wujud (ada).  Al-Muzadilah:7/ Al-Hadid:4.
 “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada”.

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam di atas ´Arsy[[1]].   Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya [[2]]. dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Al-Hadid: 4.

2)      Ada-Nya berbeda dengan makhluk-Nya. As-Syuura:11

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.

                       Nabi bersabda:
             “Bertafakurlah tentang segala sesuatu (makhluq) dan janganlah bertafakur tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya antara langit ketujuh dan Kursiy-Nya terdapat tujuh ribu cahaya dan Allah berada di atasnya”. HR. Abu Syaikh.      

                       Di katakan oleh Imam An-Nawawi:
                       “Siapa yang meninggalkan (tidak membahas) empat perkara tentang Allah,  maka sempurnalah imannya”:
a.         “MATA” (kapan mulai ada?)
b.        “AINA” (dimana tempatnya?)
c.         “KAIFA” ( bagaimana / seperti apa?)
d.        “KAM” (berapa?)
                          
3)      Ada-Nya Esa, tidak bernak / di peranakkan. Al-Ikhlas.  (lihat pada bab  Pengertian Tauhid)

4)      Tidak terjangkau oleh indra. Al-An’am: 103.
 “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.


5)      Ilmu manusia tidak menjangkau-Nya. Thaha:110.

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.


6)      Ada-Nya Kekal selamanya dan segala sesuatu selain Dia akan musnah.  Ar-Rahman: 26-27 / Al-Qashash: 88.
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. 26-27.

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Dzat  Allah.”. 88.


B.     Sifat-sifat-Nya. QS. Al-A’raf:180.
Hanya milik Allah asmaa-ul husna[[3]], Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya[[4]]. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.



A.   Sifat Wajib 20 dan Mustahil 20:

1)         Wujud: ada.  Al-Hadid:4 / Al-Mujadilah:7.  Mustahil,‘Adam:Tidak ada.
2)         Qidam :  Terdahulu.  QS, Al-Hadid 3.  Mustahil,  Huduts:  Baru
3)         Baqo’:  Kekal. QS, Al-Qashash:88.      Mustahil,  Fana: Rusak
4)         Mukholafatulil awaditsi: Berbeda dengan ciptaan-Nya. QS,Asy-Syura: 11. Mustahil,  Mumatsalatu lil hawaaditsi:  Menyamai ciptaan-Nya.
5)        Qiyaamuhu binafsihi:  Berdri sendiri (tidak membutuhkan bantuan). QS.Al-Ankabut:6.  Mustahil,  Ihtiyaaju lighoirih: Membutuhkan  kepada yang lain (makhluq-Nya).
6)         Wahdaniyyah: Esa. Al-Baqarah: 163.   Mustahil,  Ta’addud: Bilangan.
7)         Qudroh:  Kuasa. QS. Al-Ahzab:72.        Mustahil, ‘Ajzun: Lemah.
8)         Irodah:  Berkehendak.  Al-Qashash: 68.  Mustahil, Karohah: Terpaksa.
9)          Ilmu: Mengetahui. Al-Baqarah: 29, 255.   Mustahil,  Al-Jahlu : Bodoh.
10)      Hayat: Hidup.  QS. Al-Baqarah: 255.    Mustahil,  Maut: Mati.
11)      Sama’: Mendengar.  QS.Asy-Syura: 11.   Mustahil,  Shomamun: Tuli
12)      Bashor: Melihat. QS. Asy-Syura: 11.      Mustahil, ‘Umyun: Buta.
13)      Kalam: Berfirman.  QS. An-Nisa’: 163.   Mustahil, Bukmun: Bisu.
14)      Qodiiron: Kuasa.          Mustahil, ‘Ajizan: Lemah.
15)      Muriidan: Maha Berkehendak.    Mustahil, Karihan: Terpaksa.
16)      ‘Aliiman.: Maha Mengetahui.       Mustahil, Jahiilun : Bodoh.
17)      Hayyan: Maha Hidup.                   Mustahil, Mayyitan: Mati.
18)      Samii’an: Maha Mendengar.         Mustahil, Ashomma: Tuli.
19)      Bashiiron: Maha Melihat.              Mustahil, ‘Ama: Buta. 
20)      Mutakalliman: Maha Berkehendak.   Mustahil, Abkama: Bisu.
   

                              Sifat wajib Allah terbagi empat:

1)             Nafsiyyah: Sifat kepribadian Allah.  ( Wujud )
2)             Salbiyyah: Sifat hanya ada pada Allah saja. 
          (Qidam – Baqo’ – Mukhoolafatu lilhawaaditsi – Qiyaamuhuu binafsihi –  Wahdaaniyyah ).
3)             Ma’ani:  Sifat yang wajib dianggap ada pada Allah.  ( Qudroh – Irodah – Ilmu – Hayat – Sama’ – Bashor – Kalam ).
4)             Ma’nawiyyah: Sifat yang mengaktifkan sifat Ma’ani:  (Qodiiron – Muriidan– ‘Aliiman – Hayyan – Samii’an – Bashiiron – Mutakalliman).


B.       Sifat Jaiz Allah ada satu: “Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu”, (Mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu yang mumkin / wujud). QS. Al-Isra’: 54.


C.    Makhluq (Ciptaan-Nya) / Af’al (pekerjaan-Nya).

1)        Menciptakan alam dengan perkataan ”KUN” (Jadilah). Yasin: 82

§  Dalam surat Al-A’raf:  54, Allah menciptakan langit dan bumi dengan 6 masa.

                                                                                                                                                                                                                  Keterangan:
Dalam tafsir Al-Munir di sebutkan:  Maksudnya ialah Allah mengajarkan kepada hamba-Nya agar bersifat sabar dan tidak terburu-buru (instan) dalam mengerjakan segala sesuatunya.

2)     Tiada ciptaan Allah yang sia-sia. Ali Imran:191.
       (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,

                                                         Dalam ayat lain:  Semua ciptaan Allah ada hikmahnya. Al-Anbiya’:16

Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main[[5]].


3)     Tiada yang yang dapat merubah Sunnatullah (aturan-Nya).

  “Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.”

4)     Seluruh alam tunduk dan sujud kepada-Nya.  Al-Hajj: 18.
18. Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa kepada Allah bersujudlah apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya.


5)        Tentang keindahan alam ciptaan-Nya:
a.       Langit sebagai atap . Al-Anbiya’: 32.
Langit tanpa tiang. Luqman:10.
b.      Bumi sebagai hamparan (alas).  An-Naba’: 6.
c.       Gunung-gunung sebagai pasak.  An-Naba’: 7.
d.      Matahari dan bulan sebagai penerang. Yunus: 5.
e.       Bintang-bintang sebagai penunjuk kegelapan.  Al-An’am: 97.
f.       Malam buat istirahat (tidur) dan siang untuk mencari nafkah.  An-Naba’: 9- 11.
g.      Awan membawa air hujan lalu bumi menumbuhkan biji-bijian dan  tumbuh-tumbuhan.  Al-A’raf:57.


D.    Kalam (Firman-Nya): Ali-Imran: 193.

                  Kalam Allah terdiri atas  empat bagian:
1.        Amar (perintah)

Dilihat dari segi bentuknya, maka shiyagh al-Amr dapat dibagi empat, yakni :
1.  Fi’il Amr
Siyagh al-Amr yang menggunakan fi’il amr, seperti firman Allah, QS. Al-Baqarah (2), 43:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
 “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku”.
Lafal َأَقِيمُو  dan ءَاتُو dalam ayat tersebut berbentuk fi’il amr dari fi’il madhi أقام dan أتي.


2. Fi’il mudhari’ yang dimasuki lam al-Amr, seperti firman Allah, QS. Al-Imran (4): 104 :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ…
 “Dan hendaklah ada diantara kemu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan…”
Dari ayat di atas dapat dilihat bahwa lafal   وَلْتَكُنْ adalah fi’il mudhari yang dimasuki lam al-Amr (perintah).


3.  Isim mashdar sebagai pengganti dari fi’il al-Amr
Lafal mashdar yang bermakna sebagai al-amr, seperti firman Allah, QS. Al-Isra’ (15):23:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…
 “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…”

Lafal إِحْسَانًا pada ayat di atas adalah bentuk mashdar dari kata احسن- يحسن yang berarti berbuat baiklah.


4.  Isim fi’il al-Amr
Maksudnya adalah lafal yang berbentuk isim, namun diartikan dengan fi’il, misalnya :
حي علي الصلاة, حي علي الفلاح.


1.1   Setiap perintah akan membawa kebaikan. An-Nahl:97.
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan padanya kehidupan yang baik”. (Q.S. An-Nahl:97)

1.2    Allah tidak menyuruh kejahatan. Al-A’raf: 28.

2.        Nahi (larangan)
2.1. Larangan adalah perintah menghentikan perbuatan, sekalipun dari sudut lughat menggunakan kata yang berbeda, seperti:

a.       Menggunakan fi’il amar, QS al-Jumuah: 9.
…وذروالبيع…
“…Dan tinggalkanlah jual beli…”

b.      Menggunakan fi’il mudhari’ dari kata  Al-Nahyu itu sendiri. QS. Nahl:;90:
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
 “…Dan Allah melarang dari perbuatan keji dan mungkar…”

c.       Menggunakan fi’il madhi, yang menunjukkan an-nahyu khabariyyah (kabar larangan). QS. An-Nisa: 23:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ…
 “ Diharamkan atas kamu mengawini ibu-ibumu …”

d.      Bentuk khabar larangan dari fi’il madhi. QS Al-Baqarah;229:

وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا
“…Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan pada mereka…”


2.2. Setiap larangan pasti didalamnya ada nilai mudharatnya.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buru”k.(QS.Al-isra’:32)


3.        Wa’d (janji). Wa’ad adalah rangsangan untuk berbuat kebaikan.

         3.1.   Janji Allah pasti  benar.  Luqman: 33.
إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
Sesungguhnya janji Allah adalah benar

 3.2.  Allah tidak mengingkari janji-Nya.  Ali Imran: 9.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

4.   Wa’id (ancaman).
      

      4.1.  Tujuan ancaman yaitu: Untuk menghentikan perbuatan maksiat dan kelalaian dari kewajiban/ kebenaran.

Firman Allah:
“Sesunggunya adzab Tuhanmu benar-benar keras.” (al-Buruuj: 12)

Firman Allah:
“Dan begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dzalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih dan keras.” (Huud: 102)

Nabi saw bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Siapa yang belajar agama karena selain Allah -atau ia menginginkan denagn ilmu tersebut selain Allah-, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi.


4.2   Ancaman Allah pasti datang bagi penentang-penentang-Nya. Qaf: 14



E.     Kedekatan Allah dengan makhluk-Nya

1)        Manusia pasti membutuhkan Allah. Fathir:15.
Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.

2)        Allah itu dekat, lebih dekat dari urat nadi.  Al-Baqarah:186./ Qaf:16 .
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat.

Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,

3)        Allah selalu bersama kita dimanapun kita berada. Al-Hadid:4./Al-Mujadilah: 7.
Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Al-Hadid:4

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Al-Mujadilah: 7.

4)        Allah sebagai Pelindung bagi orang-orang beriman. Al-Baqarah: 257.



Kebenaran hanyalah milik Allah




[1]  Bersemayam di atas 'Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.

[2]  Yang dimaksud:  yang naik kepada-Nya ialah antara lain amal-amal dan do´a-do’a.

[3]  Maksudnya: Nama-nama yang Agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah
[4]  Maksudnya: janganlah dihiraukan orang-orang yang menyembah Allah dengan Nama-nama yang tidak sesuai dengan sifat-sifat dan keagungan Allah, atau dengan memakai asmaa-ul husna, tetapi dengan maksud menodai nama Allah atau mempergunakan asmaa-ul husna untuk Nama-nama selain Allah.

[5]  Maksudnya: Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya itu adalah dengan maksud dan tujuan yang mengandung hikmat.


Posting Komentar