Senin, 26 September 2016

Istri shalihah akan mendatangkan keberuntungan


Istri shalihah akan mendatangkan keberuntungan


Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah mengisyaratkan ada dua jenis istri di dunia ini. Yang pertama adalah istri yang mendatangkan kebahagiaan  dan kedua istri yang mendatangkan kesengsaraan.

Seperti apa istri yang mendatangkan kebahagiaan? Berikut ini empat kriterianya sebagaimana disebutkan dalam hadits:
فمن السعادة المرأة الصالحة تراها فتعجبك وتغيب عنها فتأمنها على نفسها ومالك. أخرجه الحاكم، وحسَّنه الألباني في "صحيح الجامع".
“Maka diantara keberuntungan adalah istri shalihah yang jika kamu memandangnya kamu menyukainya, dan jika engkau tidak berada di rumah ia menjaga kesuciannya serta menjaga hartamu. (HR. Hakim, dianggap hasan oleh Al Albani dalam kitab shahihil jami’)


1.      Shalihah

Kriteria pertama istri yang membahagiakan adalah shalihah. Artinya, ia adalah seorang muslimah sekaligus mukminah yang taat kepada Allah dan rasul-Nya serta taat kepada pasangan hidupnya (suami). Ia benar-benar muslimah dan dari islamnya yang baik itu dapat diwujudkan dalam bentuk ibadah dan amal shalih serta akhlaq mulia.

Keislaman dan keimanan ini merupakan kunci utama istri yang membahagiakan bagi seorang suami muslim. Tidak dapat dibayangkan jika seorang istri bisa mendatangkan kebahagiaan bagi suami jika mereka beda aqidah.

2.      Menarik dipandang

Dalam bahasa hadits tersebut tidak disebut cantik, tetapi disebut menarik atau membuat kagum suami jika dipandang. Menarik atau menyenangkan tidak selalu harus cantik. Apalagi, cantik itu relatif. Karenanya ketika masih sekolah menengah dulu, kelompok wanita cantik tidak bisa menjadi sebuah himpunan. Tidak bisa dimasukkan dalam diagram venn. Sebab setiap orang memiliki sudut pandang kecantikan yang berbeda.
Menarik dan menyenangkan itu bisa jadi karena aura cinta dan pancaran kasih sayang dari wajah istri. Senyum yang tulus juga membuat seorang istri menarik di hadapan suami. Sebaliknya, seorang wanita secantik apapun jika selalu cemberut di hadapan suami, ia tak menarik lagi.
Agar menarik dan menyenangkan suami, seorang istri perlu merawat dirinya. Berhias dengan hiasan yang disukai suami dan memakai pakaian yang serasi. Sebaliknya, suami perlu memfasilitasi istrinya agar bisa berhias dengan baik. Membelikan pakaian, kosmetik, dan seterusnya.

3.      Menjaga kesucian

Kriteria ketiga adalah menjaga kesucian. Terutama saat suami pergi. Sebab ia berprinsip bahwa dirinya adalah wanita terhormat yang tunduk kepada aturan Allah dan setia kepada suami. Maka ia menjaga diri agar tidak berkhalwat, tidak ikhtilat, tidak tabarruj, dan senantiasa menutup aurat. Bicara pun dijaga, apalagi berdekatan dengan pria yang bukan mahramnya.
Suami yang memiliki istri dengan kriteria begini menjadi tenang hatinya, damai jiwanya. Ia benar-benar mengecap sakinah dalam kehidupan berumah tangga.

4.      Menjaga harta

Kriteria keempat adalah menjaga harta suami ketika sang suami pergi. Bagi istri model begini, harta suami adalah amanah yang harus dijaganya dengan baik. Sebab ia sendiri menyadari bahwa harta itu juga untuk dirinya dan anak-anaknya; selain untuk mustahiq jika mencapai nisab dan haulnya.
Mendapati istri menjaga kehormatannya dan menjaga pula hartanya, suami tentu bahagia. Ketika pergi bertugas atau berdakwah, suami tidak disibukkan dengan pikiran macam-macam akibat kecurigaan. Ia juga tidak dibebani dengan pikiran-pikiran yang berpangkal dari kekhawatiran. Yang ada adalah ketenangan, kedamaian, kebahagiaan.

Wahai para istri!!!! jika anda ingin memperoleh keberuntungan dalam berpasangan dengan suamimu maka jadilah istri shalihah.




Rabu, 16 Maret 2016

INDEK AL-QURAN (Lanjutan 17)


INDEK AL-QURAN (Lanjutan 17)

·  Sumpah dan nazar



Sabtu, 27 Februari 2016

JIN SULIT KELUAR DARI TUBUH PASIEN


JIN SULIT KELUAR DARI TUBUH PASIEN

 Sulit keluarnya jin dari dalam tubuh pasien ketika menjalani ruqyah merupakan permasalahan yang sangat besar bagi seorang praktisi ruqyah syariyyah dan pasien sendiri. Hal ini terjadi bukan kerena kurang ampuhnya amalan-amalan ruqyahnya (ayat-ayat Al-quran dan doa-doa nabi saw) melainkan adanya kekurangan pelaksananya (peruqyah atau pasien).
Kasus seperti ini sering terjadi terutama pada pasien gangguan jin yang tergolong berat. Dan penyebanya adalah karena kurangnya bertaubat (kembali ke jalan yang lebih baik).

Sulit keluarnya jin biasanya disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

PASIEN:
1.           Kurang yakin  bahwa  Al-quran sebagai obat/penyembuh, sehingga muncul keragu-raguan akan kesembuhan panyakitnya melalui ruqyah syariyyah. Atau masih menganggap remeh akan keampuhan Al-quran, sehingga terkadang Al-quran hanya dianggap sebagai obat alternative (pilihan terakhir). 
        Taubatnya: Yakinlah seyakin-yakinnya bahwa Al-quran adalah sarana penyembuh yang ampuh buat segala jenis penyakit, jangan ada keraguan sedikitpun.

2.           Belum sungguh-sungguh dalam bertaubat dan tazkiyyatun-nafsi (membersihkan jiwa/hati) dari sifat yang disukai oleh golongan jin, seperti masih memendam rasa benci, kesal, dendam, emosi/marah, prasangka buruk dll.
Taubatnya: Taubat dari kemusyrikan, hilangkan keyakinan terhadap kebendaan. Yakinlah bahwa tiada kekuatan selain dari Allah swt. Taubat dari sikap tercela, latihlah diri sendiri untuk selalu sabar/lapang dada, pemaaf, rendah hati, ramah dll.

3.           Masih sering melalaikan ibadah (wajib atau sunnah) dan kurangnya dzikrullah (mengingat Allah).
“dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, Maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” Fush-shilat:36
Taubatnya: Tunaikan ibadah secara benar baik yang wajib atau sunah, banyaklah mengingat Allah dengan memperbanyak dzikir.

4.           Kurang sungguh-sungguh dalam melawan pengaruh-pengaruh jin, sehingga datang rasa malas dan kantuk ketika menjalani ruqyah.
Taubatnya: Semangat dan berjuanglah demi kesembuhan anda. Usahakan tidak mengantuk, mungkin bisa dibantu dengan cara lain sebelum ruqyah untuk menghilangkan rasa kantuknya.

5.           Menjalani ruqyahnya bukan atas kemauan diri sendiri, melainkan karena dorongan orang  lain (karena keterpaksaan). 
Taubatnya: Tanamkan keinginan kuat dari diri sendiri karena andalah yang pertama akan merasakan nikmatnya kesembuhan. Tetapi perlu dukungan pihak lain untuk menumbuhkan semangat lebih.

6.           Masih terdapat benda-benda syirik & buhul (ikatan sihir) yg tersimpan di dalam rumahnya.
Taubatnya: Buang dan hilangkan benda-benda syirik yang di keramatkan atau benda lain yang dapat menjadi tempat tinggal para jin.

7.           Masih terikat perjanjian dengan jin, baik yang pernah dibuat oleh pasien atau leluhurnya.
Taubatnya: Putuskan perjanjiannya dengan jin. Jika perjanjian itu dibuat oleh leluhur anda, maka sering-seringlah berdoa: “Ya Allah putuskanlah perjanjian yang telah dibuat para leluhur kami dengan golongan jin untuk selama-lamanya, dan putuskanlah hubungan mereka dengan kami dan keturunan kami”.
Dengan banyak membaca ayat 1 surat At-Taubah untuk memutus perjanjian tersebut:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بَرَاءَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. (Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan RasulNya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu (kaum muslimin) telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka). At-Taubah:1

8.           Masih merasa aman dan tenang berdampingan / berteman dengan khadam jin (masih berat melepasnya). Atau berat melepaskan ilmu-ilmu yang menyebabkan datangnya para khadam jin tersebut.
Taubatnya: Tinggalkan semua ilmu-ilmu yang membawa sesat itu dan hanya kepada Allahlah tempat berlindungnya.

9.           Merasa dirinya bersih dari gangguan jin, sekalipun setelah dilakukan ruqyah terdapat reaksi-reaksi yang menunjukkan adanya gangguan jin. 
Taubatnya: Sadari kalau pada dirinya terdapat pengaruh-pengaruh kejahatan golongan jin.

10.         Kurang khusyu’ dalam menjalani ruqyah.
Taubatnya: Dengarkan ayat-ayat ruqyah dengan khusyu’ dan vokus, diam dan tenangkan semua anggota badan, serahkan kepada Allah apapun yang terjadi, yakinlah bahwa Al-qur’an tidak akan mencelakakan kita, melainkan mendatangkan rahmat berupa kesembuhan dari Allah swt.

Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”. Al-A’raf:204.


Apabila hal-hal buruk diatas masih ada pada diri pasien maka ini akan menjadi penghalang / penghambat keluarnya jin dari badan pasien. Atau menjadi penyebab jin akan kembali lagi masuk ke tubuh pasien.



PERUQYAH

1.      Kurang ikhlas dalam mengamalkan ruqyahnya (masih terselip harapan, pujian dll).
2.      Belum memahami sepenuhnya tata cara dan persyaratan sebagai seorang praktisi ruqyah syariyyah.
3.      Masih memiliki sifat dan sikap tercela pada dirinya, sehingga membuat jin memiliki kekuatan.
4.      Masih ada kesalahan maksiat yang dilakukan saat meruqyah, sehingga Al-quran tidak memiliki kekuatan maksimal untuk mengalahkan jin.
5.     Tidak diawali dengan penyerahan diri kepada Allah / memohon perlindungan dan kekuatan kepada-Nya. Seolah-olah kekuatan / pertolongan hanya datang dari amalan ruqyahnya semata. 
6.      Stamina yang kurang mendukung, mungkin disebakan kondisi badan masih letih, lelah dll, sehingga berefek pada proses ruqyah yang tidak maksimal.

Keberhasilan hanyalah datang dari Allah swt